Jumat, 20 November 2015

bumi sahabat

Surat kepala suku seattle  untuk Presiden Amerika:

Presiden di washington mengirimkan surat yang berisi keinginannya untuk membeli tanah kami. Tetapi, bagaimana anda dapat membeli atau menjual langit dan tanah? Pikiran ini aneh bagi kami. Jika kami tidak memiliki kesegaran udara dan kemilau air, bagaimana anda dapat membelinya?
Setiap bagian dari dunia ini suci bagi rakyat kami, setiap jarum cemara yang berkilau, setiap pantai yang berpasir, setiap kabut dalam hutan, setiap padang ruput, setiap serangga yang mendengung. Semua itu suci dalam ingatan dan pengalaman rakyat kami.
Kami mengetahui getah yang mengalir melalui pepohonan sebagaimana kami mengetahui darah yang mengalir melalu pembuluh vena kami. Kami adalah bagian dari bumi dan bumi adalah bagian dari kami. Wangi bunga adalah saudara perempuan kami. Beruang, rusa, burung elang raksasa merupakan saudara laki-laki kami. Puncak gunung berbatu, embun di padang sabana, suhu badan kuda poni, dan manusia, semua anggota dari keluarga yang sama.
Air berkilau yang mengalir di parit dan sungai tidak hanya air, tetapi juga darah dari nenek moyang kami. Jika kami menjual tanah kami kepada anda, anda harus ingat bahwa  tanah ini adalah suci. Setiap bayangan remang di atas air danau yang jernih mengisahkan peristiwa dan kenangan dalam kehidupan rakyat kami. Gemercik air dalam suara nenek moyangku.
Sungai-sungai adalah saudara laki-laki kami. Sungai memuaskan dahaga kami. Sungai membawa perahu kami dan memberi makan bagi anak-anak kami. Maka, anda harus bersikap baik kepada sungai seperti anda bersikap baik kepada saudara laki-laki anda yang lain.
Jika kami menjual tanah kami, ingatlah bahwa udara berharga bagi kami, bahwa udara berbagi jiwa dengan semua kehidupan yang didukungnya. Angin yang memberikan nafas pertama bagi kakek kami juga mendapat nafas panjang terakhir dari kakek kami. Maka, jika kami menjual tanah kami kepada anda, anda harus menjaganya secara terpisah dan menganggapnya sebagai sesuatu yang suci, sebagai suatu tempat di mana mansia pergi untuk meraskan angin yang dipermanis oleh bunga-bunga padang rumput.
Akankah anda mengajarkan kepada anak-anak anda seperti apa yang telah kami ajarkan kepada anak-anak kami bahwa bumi adalah ibu kita? Apa yang menimpa bumi juga menimpa semua penghuni bumi
Inilah yang kami tahu: bumi bukan milik manusia, alih-alih manusia milik bumi. Semua hal dihubungkan seperti darah yang menyatukan kita semua. Manusia tidak merajut jaringan hidup; dia hanya sebuah untaian dalam jaringan tersebut. Apa pun yang dia lakukan bagi jaringan hidupnya, dia lakukan juga untuk dirinya sendiri.
Satu hal yang kita tahu: dewa kami juga adalah dewa anda. Bumi berharga untuk dewa, dan melukai bumi berarti melancarkan penghinaan terhadap pencipta bumi.
Nasib anda adalah misteri bagi kami. Apa yang akan terjadi ketika banteng disembelih dan kuda liar dijinakkan? Apa yang akan terjadi ketika  pelosok-pelosok suci rimba dipenuhi aroma pria, dan pemandangan bukit yang indah dikotori kabel-kabel yang berbicara? Akan ke manakah semak-semak? Pergi? Akan kemanakah burung elang? Pergi? Dan apakah itu berarti mengucapkan selamat tinggal kepada kuda poni yang tangkas dan kepada perburuan? Akhir dari kehidupan dan awal dari perjuangan hidup.
Ketika orang-orang kulit merah terakhir telah punah dengan keliaran mereka dan kenangannya hanya berupa bayangan dari segumpal awan yang berarak melintasi padang rumput, akankah pantai dan hutan-hutan ini tetap ada di sini? Akankah ada jiwa dari rakyatku yang tersisa?
Kami mencitai bumi ini seperti seorang bayi yang baru lahir mencintai detak jantung ibunya. Jadi, jika kami menjual tanah kami kepada Anda, cintailah ia seperti kami mencintainya. Peliharalah ia seperti kami memeliharanya. Simpanlah selalu dalam pikiran anda kenangan akan tanah ini seperti ketika anda menerimanya. Peliharalah tanah ini bagi anak-anak dan cintailah tanah ini seperti Tuhan mencintai kita semua.
Sebagaimana kami merupakan bagian dari tanah ini, anda juga adalah bagian dari tanah ini. Bumi ini berharga bagi kami. Bumi juga berharga bagi anda. Satu hal yang kami tahu: hanya ada satu Tuhan. Tidak ada manusia, baik kulit merah ataupun kulit putih, yang dapat dipisahkan. Kita semua adalah saudara. 

For the best friends “Gubuk Kosmik”
Kita semua adalah saudara, saudara dalam keberagaman. Melukis hari-hari dengan warna-warna selaksa peristiwa,sebagaimana halnya bumi atau alam ini terangkai dalam simponi getaran-getaran keindahan penciptaan-Nya. Seperti suku seatle mencintai bau tanah yang menyerbak di antara kehidupan mereka, mecoba memahami angkasa demi mengerti keinginan bumi, mengakui jagat raya sebagai tanda-tanda kekuasaan Sang Pencipta. Seiring seirama bahwa kita adalah saudara.

20 November 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar