tempatnya temen-temen sharing and care tempatnya bikin suasana asyik menghibur diri dan orang nyanyi dan ngomong sembarang yang bikin inspirasi
Selasa, 24 November 2015
Jumat, 20 November 2015
bumi sahabat
Surat kepala suku seattle
untuk Presiden Amerika:
Presiden di washington mengirimkan surat yang
berisi keinginannya untuk membeli tanah kami. Tetapi, bagaimana anda dapat
membeli atau menjual langit dan tanah? Pikiran ini aneh bagi kami. Jika kami
tidak memiliki kesegaran udara dan kemilau air, bagaimana anda dapat
membelinya?
Setiap bagian dari dunia ini suci bagi rakyat
kami, setiap jarum cemara yang berkilau, setiap pantai yang berpasir, setiap
kabut dalam hutan, setiap padang ruput, setiap serangga yang mendengung. Semua
itu suci dalam ingatan dan pengalaman rakyat kami.
Kami mengetahui getah yang mengalir melalui
pepohonan sebagaimana kami mengetahui darah yang mengalir melalu pembuluh vena
kami. Kami adalah bagian dari bumi dan bumi adalah bagian dari kami. Wangi
bunga adalah saudara perempuan kami. Beruang, rusa, burung elang raksasa
merupakan saudara laki-laki kami. Puncak gunung berbatu, embun di padang
sabana, suhu badan kuda poni, dan manusia, semua anggota dari keluarga yang
sama.
Air berkilau yang mengalir di parit dan sungai
tidak hanya air, tetapi juga darah dari nenek moyang kami. Jika kami menjual
tanah kami kepada anda, anda harus ingat bahwa
tanah ini adalah suci. Setiap bayangan remang di atas air danau yang
jernih mengisahkan peristiwa dan kenangan dalam kehidupan rakyat kami. Gemercik
air dalam suara nenek moyangku.
Sungai-sungai adalah saudara laki-laki kami.
Sungai memuaskan dahaga kami. Sungai membawa perahu kami dan memberi makan bagi
anak-anak kami. Maka, anda harus bersikap baik kepada sungai seperti anda
bersikap baik kepada saudara laki-laki anda yang lain.
Jika kami menjual tanah kami, ingatlah bahwa
udara berharga bagi kami, bahwa udara berbagi jiwa dengan semua kehidupan yang
didukungnya. Angin yang memberikan nafas pertama bagi kakek kami juga mendapat
nafas panjang terakhir dari kakek kami. Maka, jika kami menjual tanah kami
kepada anda, anda harus menjaganya secara terpisah dan menganggapnya sebagai sesuatu
yang suci, sebagai suatu tempat di mana mansia pergi untuk meraskan angin yang
dipermanis oleh bunga-bunga padang rumput.
Akankah anda mengajarkan kepada anak-anak anda
seperti apa yang telah kami ajarkan kepada anak-anak kami bahwa bumi adalah ibu
kita? Apa yang menimpa bumi juga menimpa semua penghuni bumi
Inilah yang kami tahu: bumi bukan milik
manusia, alih-alih manusia milik bumi. Semua hal dihubungkan seperti darah yang
menyatukan kita semua. Manusia tidak merajut jaringan hidup; dia hanya sebuah
untaian dalam jaringan tersebut. Apa pun yang dia lakukan bagi jaringan
hidupnya, dia lakukan juga untuk dirinya sendiri.
Satu hal yang kita tahu: dewa kami juga adalah
dewa anda. Bumi berharga untuk dewa, dan melukai bumi berarti melancarkan
penghinaan terhadap pencipta bumi.
Nasib anda adalah misteri bagi kami. Apa yang
akan terjadi ketika banteng disembelih dan kuda liar dijinakkan? Apa yang akan
terjadi ketika pelosok-pelosok suci
rimba dipenuhi aroma pria, dan pemandangan bukit yang indah dikotori
kabel-kabel yang berbicara? Akan ke manakah semak-semak? Pergi? Akan kemanakah
burung elang? Pergi? Dan apakah itu berarti mengucapkan selamat tinggal kepada
kuda poni yang tangkas dan kepada perburuan? Akhir dari kehidupan dan awal dari
perjuangan hidup.
Ketika orang-orang kulit merah terakhir telah
punah dengan keliaran mereka dan kenangannya hanya berupa bayangan dari
segumpal awan yang berarak melintasi padang rumput, akankah pantai dan
hutan-hutan ini tetap ada di sini? Akankah ada jiwa dari rakyatku yang tersisa?
Kami mencitai bumi ini seperti seorang bayi
yang baru lahir mencintai detak jantung ibunya. Jadi, jika kami menjual tanah
kami kepada Anda, cintailah ia seperti kami mencintainya. Peliharalah ia
seperti kami memeliharanya. Simpanlah selalu dalam pikiran anda kenangan akan
tanah ini seperti ketika anda menerimanya. Peliharalah tanah ini bagi anak-anak
dan cintailah tanah ini seperti Tuhan mencintai kita semua.
Sebagaimana kami merupakan bagian dari tanah
ini, anda juga adalah bagian dari tanah ini. Bumi ini berharga bagi kami. Bumi
juga berharga bagi anda. Satu hal yang kami tahu: hanya ada satu Tuhan. Tidak
ada manusia, baik kulit merah ataupun kulit putih, yang dapat dipisahkan. Kita
semua adalah saudara.
For the best friends
“Gubuk Kosmik”
Kita semua adalah
saudara, saudara dalam keberagaman. Melukis hari-hari dengan warna-warna
selaksa peristiwa,sebagaimana halnya bumi atau alam ini terangkai dalam simponi
getaran-getaran keindahan penciptaan-Nya. Seperti suku seatle mencintai bau
tanah yang menyerbak di antara kehidupan mereka, mecoba memahami angkasa demi
mengerti keinginan bumi, mengakui jagat raya sebagai tanda-tanda kekuasaan Sang
Pencipta. Seiring seirama bahwa kita adalah saudara.
20 November 2015
Senin, 16 November 2015
gemuruh tinta cinta
Pesanmu telah
ku baca
Meski aku
tak tahu untuk siapa pesan itu
Aku tak tahu
mengapa nada pesan mu tak bahagia
Tak seindah
kata yang kau tulis
Tak semerdu
goresan tinta-tinta cinta yang merekah
Kau tulis
begitu panjang lamunan mu tentang hujan dan angin
Tentang pelangi
dan matahari
Tentang senja
dan kegelapan malam
Tahukah engkau
Pesanmu menggoreskan
rasa dalam dan begitu menderu
Seperti ilusi-ilusi
kegelapan malam
Seperti ombak
parangro
Seperti angin
pagi musim kemarau
Meski hujan
saat ini telah tiba
Namun gemerciknya
seolah tak membawa mu pergi dari keheningan
Tajamnya rintik
hujan hanya membuatmu semakin merindu
Entah,
merindu pada siapa
Seputar celoteh
ini
Aku sampaikan
padamu
Meski,
hingga saat ini aku tak tahu untuk siapa pesanmu
Jika apa
yang kucurahkan tentang pesanmu
Seperti bayangan
pantulan fatamorgana
Yang menyimpulkan
kekeliruan
Aku minta
maaf
Meski aku terseret
dalam alunan cinta gemuruh hujan
Dari bait-bait
pesan mu
aku mecintaimu
Sejujurnya aku ingin mencintaimu
Seperti pelangi mencintai hujan
Tahukah engkau
Aku diberitahu, cinta Tuhanku lebih nyata
Meski aku benar-benar mencintaimu
Namun pilihan cinta-Nya adalah terbaik untukku
Seperti binar wajah ceria yang tampak dengan segala
keadaannya
Dan aku ingin engkau tahu aku mencintaimu
Hingga saat ini aku meminta
Aku dipertemukan denganmu
Terbatas dalam ruang
Menggantung atau mengambang
Tak melayang dan tak mengalir
Beku tak sepenuhnya
Bersenda tapi tak nyata
Sepenuhnya hanya sebagiannya sahaja
Merayap atau terseret
Berjalan tetap di tempat
Melompat sebatas kemampuan
Terjatuh di pertengahan
Merenung namun tak berfikir
Melamun yang sebenarnya
Jujur di bibir
Semburat wajah menipu
Akal berkata
Hati meronta
Surut merunut
Pasang menerjang
Badai melalang
Sepoi menghilang
Adakah gelisah ini terjaga dan menghilang
Bak anak merpati tersadar akan sayap dan kepakan
Tuhan pada Mu semuanya bersandar
Rabu, 04 November 2015
terlalu dekat dengan matahari,,,,,
seiring semangat dan gairah
tersadar dan terbakar
terjatuh
terjatuh di renungan dalam
bersamanya tak pernah tahu
dimana akan bersandar
terbesit tanya
kapankah waktunya
saat kemarau belum mau beranjak
hari semakin terik
kering, sekering kulit-kulit ari itu
ada tawa meski panasnya membahana
sedihnya senyuman itu terbelenggu fatamorgana
di mana
di mana ada ketulusanmu
sebagian demi sebagian gairah itu telah pergi
mengingat dan menghilang
asamu mengharapkan hujan
bangun dan beranjak kembali
sudah saatnya ada wujudnya
seperti senyatanya apa yang kau rasakan
hujan akan datang
matahari menjauh
senja menyongsong kelelahan
tersadar dan kembali
seiring semangat dan gairah
tersadar dan terbakar
terjatuh
terjatuh di renungan dalam
bersamanya tak pernah tahu
dimana akan bersandar
terbesit tanya
kapankah waktunya
saat kemarau belum mau beranjak
hari semakin terik
kering, sekering kulit-kulit ari itu
ada tawa meski panasnya membahana
sedihnya senyuman itu terbelenggu fatamorgana
di mana
di mana ada ketulusanmu
sebagian demi sebagian gairah itu telah pergi
mengingat dan menghilang
asamu mengharapkan hujan
bangun dan beranjak kembali
sudah saatnya ada wujudnya
seperti senyatanya apa yang kau rasakan
hujan akan datang
matahari menjauh
senja menyongsong kelelahan
tersadar dan kembali
Selasa, 03 November 2015
sejujurnya aku sudah malas untuk menulis
tapi untuk mu kutulis sesuatu
sesuatu seiring senja
seiring langit meredup
seiring dingin malam yang mulai menyapa
senja apapun itu
engkau adalah secercah cahaya matahari
meskipun hitam malam akan berjaya
engkau takkan lepas dari jiwa matahari
engkau adalah semburat lika-liku kehidupannya
jadi jangankan engkau takut senja
matahari takkan meninggalkanmu
dirimu adalah warna kebahagian
ketika teriknya terlalu garang
engkau hadir menenangkan jiwa-jiwa manusia
matahari tak akan mampu selalu membakar semangat itu
selayaknya engkau ada sebagai penentram
dirimu satu bagian darinya
matahari akan bertanya di mana senja
jika teriknya telah banyak memberi gelora
saat kau datang alam akan menjadi tenang
matahari akan tersenyum
menyambut tanganmu senja
ya,,,
benar
menyambut tanganmu
berjalan beriringan
keperaduan cintanya dan cintamu
tapi untuk mu kutulis sesuatu
sesuatu seiring senja
seiring langit meredup
seiring dingin malam yang mulai menyapa
senja apapun itu
engkau adalah secercah cahaya matahari
meskipun hitam malam akan berjaya
engkau takkan lepas dari jiwa matahari
engkau adalah semburat lika-liku kehidupannya
jadi jangankan engkau takut senja
matahari takkan meninggalkanmu
dirimu adalah warna kebahagian
ketika teriknya terlalu garang
engkau hadir menenangkan jiwa-jiwa manusia
matahari tak akan mampu selalu membakar semangat itu
selayaknya engkau ada sebagai penentram
dirimu satu bagian darinya
matahari akan bertanya di mana senja
jika teriknya telah banyak memberi gelora
saat kau datang alam akan menjadi tenang
matahari akan tersenyum
menyambut tanganmu senja
ya,,,
benar
menyambut tanganmu
berjalan beriringan
keperaduan cintanya dan cintamu
aku sedang berusaha
meskipun dingin menyelinapiku
hangat matahari dirindukan
segarnya pagi didambakan
senja adalah indah
saat kau ada di sampingku
tapi dimana kau kini
aku merindukanmu
aku ingin kau memelukku
atau aku yang akan memelukmu
aku tak ingin kau kecewa
aku usahakan semua
aku tak ingin merasakan kaki berdarah
sebab senyummu begitu indah
indah bagiku adalah dirimu
secantik apapun mawar-mawar itu
kesederhanaanmu membawa kebahagiaan sebenarnya
engkau nyata
meski bingkai dunia begitu berkilau
meskipun dingin menyelinapiku
hangat matahari dirindukan
segarnya pagi didambakan
senja adalah indah
saat kau ada di sampingku
tapi dimana kau kini
aku merindukanmu
aku ingin kau memelukku
atau aku yang akan memelukmu
aku tak ingin kau kecewa
aku usahakan semua
aku tak ingin merasakan kaki berdarah
sebab senyummu begitu indah
indah bagiku adalah dirimu
secantik apapun mawar-mawar itu
kesederhanaanmu membawa kebahagiaan sebenarnya
engkau nyata
meski bingkai dunia begitu berkilau
Langganan:
Postingan (Atom)
